Wartawan Diminta Memihak Korban Kekerasan Seksual | Moral-politik.com

Wartawan Diminta Memihak Korban Kekerasan Seksual

Pelatihan wartawan gender

 

Mortal-politik.com. Wartawati senior Ana Djukana minta para wartawan dalam menulis dan melaporkan peristiwa kekerasan terhadap perempuan khususnya peristiwa kekerasan seksual, herus berpihak pada korban.

Permintaan ini disampaikan Ana Djukana, saat menjadi nara sumber dalam kegiatan Pelatihan Wartawan Berperspektif Gender yang berlangsung di hotel Grenia Kupang. Kegiatan pelatihan ini digelar atas kerjasama LSM Oxfam, Lopo Belajar Gender dan Harian Kursor.

Menurut Ana Djukana pemberitaan yang berpihak pada korban baik korban pemerkosaan maupun korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) akan menguatkan perempuan dari penderitaan. Ana Djukana mengatakan, dalam menulis peristiwa pemerkosaan dan KDRT wartawan harus berempati terhadap korban.

“Mengawali laporan atau tulisan harus mendeskripsikan¬† tentang kondisi psikologis korban yang dikaitkan dengan fakta. Dengan demikian penyebutan nama korban dalam penulisan peristiwa harus dengan inisial atau nama samaran. Pertimbangannya, korban akan merasakan dampak psikologis dari perbuatan pelaku seumur hidup, meski pelaku sudah keluar dari hukumannya di penjara. Begitupun nama kedua orangtua korban dan alamat korban bahkan pacar korban,” kata Ana.

Dalam menulis peristiwa, kata Ana, harus dihindari pandangan bahwa perempuan diperkosa karena keluar malam atau karena mengenakan pakaian yang seksi. Dalam banyak kasus pemerkosaan, kata Ana, korban justru berada dalam rumah dan dilakukan oleh orang-orang terdekat, mulai dari bapak kandung, bapak tiri, om, kakak, tetangga, teman.

“Perempuan berada di dalam rumah atau di luar rumah, malam hari, siang hari, pagi hari¬† bukan alasan bagi siapapun untuk melakukan pemerkosaan. Lagipula asumsi berpakaian seksi juga tidak benar karena kebanyakan anak-anak di bawah umur menjadi korban, tidak ada kaitannya dengan pakaian seksi tetapi moral pelaku,” tandasnya.

Ana Djukana tidak sependapat dengan opini atau anggapan yang dibentuk seolah-seolah semua akan aman dan sentosa jika perempuan berdiam di rumah, berlindung dalam kegiatan dan tugas tradisionalnya. Padahal tidak ada  tempat satu pun yang aman bagi perempuan.

Selain itu wartawan juga diminta untuk menghindari pemilihan nara sumber yang tidak paham gender atau menghindari komentar-komentar nara sumber yang justru memojokan korban. ****

Ijok

Comments

comments

You must be logged in to post a comment Login